Kulit
putih merupakan dambaan sebagian besar wanita. Bagaimana dengan
keputihan? Bagi kaum wanita, keputihan sangat tidak diharapkan dan harus
dijauhi karena bisa membuat wanita tidak percaya diri, rendah diri dan
perasaan malu.
Keputihan merupakan gangguan penyakit yang hanya dialami wanita, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan hingga orang tua.
Bagi wanita yang sudah berkeluarga, gangguan keputihan akan menjadi
masalah malah dapat berpengaruh terhadap keharmonisan hubungan
suami-istri. Karena tidak jarang keputihan menjadikan istri enggan
melakukan hubungan intim atau suami merasa enggan berhubungan intim
karena si istri keputihan. Keputihan terutama diderita oleh wanita yang
telah menikah dan paling sering ditemui pada mereka yang menderita
penyakit kandungan.
Keputihan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu keputihan fisiologis dan
keputihan patologis. Keputihan fisiologis disebut juga keputihan normal.
Keputihan jenis ini ditandai keluarnya lendir encer dan bening. Lendir
ini tak menimbulkan rasa gatal di sekitar vagina dan tidak menimbulkan
bau anyir (amis). Keputihan jenis ini pada umumnya pernah dialami wanita
dan bersifat normal. Namun gangguan ini sedini mungkin harus dicegah.
Penyebabnya adalah pengaruh psikis, misalnya terlalu lelah, cemas,
stres, depresi. Selain itu, kurang menjaga kebersihan kulit terutama
sekitar alat genital, kurang menjaga kebersihan pakaian dalam dan
biasanya timbul pada saat atau menjelang atau setelah menstruasi.
Sedangkan keputihan patologis disebabkan infeksi atau peradangan.
Cirinya adalah keluarnya lendir kental yang berwarna agak kuning sampai
hijau yang berbau. Jenis ini disertai timbulnya rasa gatal yang sangat
menggangu di sekitar alat genital, rasa sakit atau nyeri saat melakukan
hubungan suami-istri dan lain-lain.
Penyebabnya, antara lain, radang vulva, radang vagina, radang leher
rahim (service) dan radang rongga rahim. Selain itu, jamur Trichomonas
vaginalis dan jamur moniliasis (leandiasis) yang ini menimbulkan rasa
gatal serta adanya benda asing dalam liang senggama serta adanya kanker
alat kelamin;
Seorang wanita hamil yang menderita keputihan disebabkan infeksi akan
menularkan keputihan tersebut kepada bayinya apabila ia melahirkan
secara normal atau lewat liang senggama. Penyakit ini juga dapat
menyebabkan bayi cacat bahkan kematian bayi. Sedangkan keputihan yang
disebabkan infeksi bila diderita wanita yang belum menikah akan
menyebabkan terjadinya infeksi saluran kencing, radang panggul, gangguan
haid, bahkan dapat menyebabkan kemandulan.
Mengatasi keputihan secara alamiah: Ambil 30 Gram kulit delima kering
dan 30 gram sambiloto direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc,
kemudian airnya diminum.
Selain itu, bisa menggunakan lidah buaya secukupnya dikupas kulitnya,
lalu dijus kemudian direbus bersama 30 gram sambiloto dengan air
secukupnya. Setelah itu airnya diminum selagi hangat.
Cara lain adalah lidah buaya secukupnya dikupas kulitnya lalu bagian
dalamnya dijus, kemudian direbus bersama 30 gram sambiloto dan daun
sirih secukupnya dengan air secukupnya hingga mendidih. Kemudian gunakan
air rebusan tersebut selagi hangat untuk membersihkan vagina.
Atau gunakan 30 Gram tapak liman direbus dengan 600 cc air hingga
tersisa 300 cc, kemudian airnya diminum selagi hangat. Gunakan 30 Gram
baru china/daun hia segar direbus dengan 500 cc air hingga tersisa 200
cc, lalu airnya diminum.
Selain itu bisa diatasi dengan menggunakan 60 Gram daun beluntas, 30
gram bunga boroco direbus dengan 500 cc air hingga tersisa 200 cc, lalu
airnya diminum.
Gunakan 15 Gram akar bunga tasbih, 30 gram akar kembang pukul empat
direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, lalu airnya disaring
dan diminum.
Ambil 25 Gram daun meniran, 15 gram daun pacar china direbus dengan 500 cc air hingga tersisa 200 cc, kemudian airnya diminum.
Untuk penderita keputihan yang faktor infeksi sebaiknya sedini mungkin
berkonsultasi dengan dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi. Gangguan
keputihan yang hilang timbul untuk jangka waktu lama tak jarang merusak
keharmonisan rumah tangga dan menimbulkan rasa putus asa. Karenanya,
jangan sampai "si putih" mengganggu keluarga Anda.
[Prof HM Hembing Wijayakusuma,
Ketua Umum Himpunan Pengobatan Tradisional
dan Akupunktur se-Indonesia (Hiptri)]
Leia Mais >>